PROLOG
PROLOG
Studio Musik, 14:56
Amira tidak bisa lagi menahan rasa
kecewanya. Perdebatannya dengan Bono, pria yang sudah menjadi kekasihnya selama
6 tahun ini, tidak bisa lagi diteruskan. Tubuh Amira mengejang, matanya memerah
dan segera menjadi panas. Pernyataan putus hubungan dari sang Bono membuatnya
makin kecewa.
“Kita enggak bisa gini terus Mir, ada yang harus direlain,”
ujar Bono.
“Direlain? Apanya?” tanya Amira.
“Ya kita. Masa omongan aku selama 3 jam ini ‘gak masuk ke
dalam otak kamu. Aku ‘gak ngerti deh cara berpikir kamu Mir” ujar Bono lagi.
“Enggak, aku ‘gak bisa ‘ngerti dan ‘gak bisa mikir. Aku yang
harusnya ‘gak ngerti cara berpikir kamu. Jadi semua hal yang kita lakuin selama
6 tahun ini Cuma boongan doang? Semua bakal kayak gini hanya karena kita ‘gak
sama? Dangkal pikiran kamu Bono,” ujar Amira.
Bono menarik nafas panjang.
Diperhatikannya wajah sang Amira. Betapa manisnya gadis ini, ujar Bono dalam
hati. Dia menunduk, diperhatikan garis tangan miliknya. Dalam garis tangan
terdapat banyak garis yang katanya menunjukkan hidup masing-masing sang pemilik
tangan. Rezeki, kesehatan serta jodoh. Sayangnya, garis tangan Bono tidak
menunjuk ke arah Amira sebagai jodohnya. Diusapnya garis tangan itu. Andai ia
bisa merubah semuanya. Sayangnya, tidak bisa.
Amira memperhatikan Bono, dengan raut
wajah sembab dan mata memanas karena menahan tangis serta emosi. Ia tidak ingin
berpisah dengan Bono hanya karena omongan keluarganya dan keluarga sang Bono.
Tapi, Bono tak sependapat.
Bono memegang lembut kepalan tangan
Amira. Dia tersenyum. Diusapnya kepalan tangan tersebut. Terlihat tangan putih
bersih nan halus yang dulu sering mengusap kepalanya, menggandeng manja
lengannya, mencubit perut, bahkan tak jarang menampar wajahnya. Seketika Bono
rindu situasi itu. Dikecupnya perlahan kepalan tangan itu.
“Please, Bon, jangan kayak gini. Jujur, aku ‘gak bisa
nerimanya. Aku sayang kamu, dan aku tahu kamu juga sayang sama aku. Tapi
please, jangan kayak gini, Bon,” pinta Amira.
Diperhatikannya wajah Amira. Ditatapnya
lekat-lekat wajah manis gadis 22 tahun tersebut. Bono tersenyum sedih. Sebelum
ia meninggalkan studio musik tersebut dan kota Bandung selamanya, ia hanya
mengucapkan satu kalimat kepada Amira.
“Selamat tinggal, Amira.”
Rumah 20:32
Rianti menatap cermin di depan.
Rambutnya tampak lusuh, wajahnya kusam bagai tak terawat, jerawat timbul di
pipi gembilnya, badannya tampak kotor seperti tidak mandi beberapa hari.
Rianti mengambil handuk. Ia nyalakan
pemanas air pada pancuran di dalam kamar mandinya. Ia biarkan air hangat
tersebut membasuh wajah dan tubuh letihnya. Mungkin bisa mengobati rasa lelah
dan pegal yang ia alami, serta rasa lelah perasaan yang ia alami 3 bulan
terakhir ini. Di sela air yang mengaliri tubuhnya, Rianti menangis. Menangis
dalam diam. Ia tak ingin ayahnya mendengarnya menangis.
Selesai mandi, Rianti menghampiri sang
ayah yang telah tertidur. Ia hampiri lelaki paruh baya tersebut. Dilihatnya
telah banyak kerutan pertanda penuaan menghampirinya. Ayahnya tampak nyaman
menjelajahi negeri mimpi. Rianti mengusap lembut kepala ayahnya. Ditariknya
selimut yang hanya menutupi badan tua renta tersebut. Sebelum Rianti pergi
tidur, dibisikkannya doa pengantar tidur di telinga ayahnya, berharap mimpi
ayahnya sangat indah tidak seperti hidup yang pria tua renta itu hadapi.
Setelah memastikan bahwa ayahnya
benar-benar tidur dengan pulas, Rianti kembali ke kamarnya. Setumpuk tugas yang
ia belum kerjakan selama hampir seminggu ini tampak memanggilnya, menginginkan
untuk diselesaikan saat itu.
Rasa lelah memaksanya menunda
pekerjaannya lagi. Rasa lelah menuntunya ke arah tempat tidur nyaman miliknya,
untuk berbaring, untuk beristirahat, untuk memejamkan mata sementara. Baru
beberapa menit Rianti berbaring, ponselnya berbunyi. Diliriknya nama yang
muncul di layar ponselnya tersebut.
IBU.
Rianti hanya melirik. Tak bergeming.
Diambilnya bantal kecil bentuk Pokemon pemberian kakaknya, dengan tujuan
menutup wajah serta telinga dari gangguan bunyi ponselnya tersebut. Bukan
Rianti tak ingin mengangkat telepon dari ibunya tersebut, ia hanya malas
berdebat dan berbicara dengan perempuan tersebut.
Tak berselang lama, ponselnya kembali
berbunyi. Kali ini menandakan pesan masuk. Kembali diliriknya layar ponselnya
tersebut. IBU.
Dibukanya pesan tersebut. Isi pesan
hanya membuat Rianti tersenyum nyinyir.
Kamu dimana Ti? Kok ‘gak angkat telepon
Ibu? Udah kasih makan Ayah? Jangan lupa mandiin Ayah, jangan buat Ayah tidur
malem. Ibu minggu ini ‘gak akan ke rumah lagi. Kalo butuh uang, kesini aja ya.
Eh tapi jangan lupa sms atau telepon dulu, takut ibu ‘gak ada di rumah.
Komentar
Posting Komentar