Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

The Magical Bird

Dahulu kala, terdapat kerajaan kecil di kaki bukit Nilgiri Hills. Kerajaan tersebut bernama Shangrila dan dipimpin oleh raja yang arif dan bijaksana, Rishi Raj. Rishi Raj merupakan raja yang baik dan dicintai oleh rakyatnya. Shangrila merupakan tempat terpencil dengan taman dan pemandangan hijau yang indah. Bunga-bunga bermekaran sepanjang tahun, banyaknya kicauan burung dan tempat bagi para hewan untuk bersenda gurau. Cinta dan kedamaian terpancar jelas dari tempat tersebut. Berdasarkan legenda setempat, hal tersebut terjadi dikarenakan oleh Kokila, seekor burung tekukur. Kokila hidup di pohon banyan yang tumbuh di taman di depan ruangan Raja. Kokila merupakan burung yang buta, tetapi dia suara yang mempesona. Dia bernyanyi sepanjang hari dan suaranya yang merdu tersebar di seluruh kerajaan membawa cinta, kedamaian dan kebahagiaan. Di sisi lain Bukit Nilgiri terdapat kerajaan bernama Dongrila. Jika Shangrila melambangkan kerajaan yang dipenuhi rasa cinta, damai dan kegembiraan, m...

Biar "Jadul" Daripada "Kekinian"

Gambar
Beberapa waktu terakhir ini, Indonesia lagi ramai membicarakan tentang riuhnya perilaku anak SMA jaman sekarang. Mulai dari konvoi kendaraan, corat coret baju seragam hingga gelar pesta "intim" di kamar hotel demi 1 tujuan : MELEPAS PENAT SEUSAI UN! (Baca :  Puluhan Pelajar Bersetubuh Usai UN ) Ketika gw menyadari dan seketika flashback ke tahun 2007-2010 dimana saat gw masih pelajar SMA, punya badan kecil tidak menjamin baju kecil dan ketat pula, dan handphone paling canggih saat itu hanya Blackberry dan hanya segelintir murid yang punya.  Mari kita lihat perbedaan anak jaman sekarang dengan anak sma jaman gw. Cuma beda jarak 6 tahun aja kok :) 1. Seragam Sejak gw masuk SMA tahun 2007, saat itu Gubernur Fauzi Bowo menerapkan peraturan bahwa semua pelajar tingkat SMP-SMA diwajibkan memakai rok panjang bagi wanita, yang saat itu masih budaya rok pendek, karena wabah demam berdarah yang lagi hebohnya banget di Jakarta. Akhirnya gw pake lah baju SMA, dengan rok...

Gambir, kala Senja Jakarta

Kota ini seperti hendak beranjak menikmati senja Tampak sang mentari beradu pandang dengan langit malam Seolah mengucapkan 'sampai jumpa esok kawan' Lampu-lampu gedung siap berteman dengan riuhnya malam Menutupi lelah yang menjalar di badan Entah berapa banyak kawan dan pekerja yang terlena dengan nikmatnya setumpuk pekerjaan dan setoran Entah berapa banyak kawan dan pekerja yang terlena dengan merdunya suara klakson jalanan Dan, Entah berapa banyak keluarga menanti tak sabar kapan si cinta sampai ke peraduan Aku rindu kota ini Di sebuah stasiun besar terduduk menikmati senja Seliweran kereta listrik yang dipenuhi para pekerja Tak peduli peluh dan keluh yang meraja Aku rindu senja di kota ini Saat indahnya kunikmati deruman kendaraan bermotor dan hawa panas yang menerpa Aku rindu dengan kota ini Dengan semua isinya Aku rindu dengan kota ini Dengan semua daya pikatnya Aku rindu Sayangnya, aku harus kembali Ke dalam indahnya pangkuan Bumi Parahyangan G...

How do we now that they're the one?

Bagaimana orang bisa saling jatuh cinta dan menjalin hubungan? Bagi beberapa orang, sesederhana karena mereka teman sekelas, teman satu tempat les, teman satu komunitas, teman sepermainan dari kecil,atau karena teman satu komplek rumah. Tapi bagi beberapa orang lainnya, pertemuan dengan si cinta tidak lah sesederhana itu. Mungkin ada yang bertemu di sebuah kafe karena salah satunya minjem chargean hp, atau bertemu di sebuah pertandingan olahraga yang anehnya kedua tim merupakan lawan masing-masing, atau karena sang cowok merupakan jagoan sekolah A tiba-tiba waktu main ke sekolah B ngeliat si cewek, yang entah siapa cewek itu tapi bikin si cowok suka, atau karena si cewek ngefans karena si cowok merupakan anak gaul se kota, atau karena iseng saling ngelempar status konyol di media sosial berlanjut di grup media sosial hingga akhirnya berlanjut chat pribadi dan ketemu dan merasa cocok satu sama lain, padahal jelas-jelas beda daerah, beda lingkungan bahkan beda pertemanan. Bagaimana seti...

Jakarta, Kota Kejam Kesayangan

d imulai dari matahari terbit dengan secangkir kopi kota ini diburu-buru mimpi dan kejaran setoran  dijegal kemacetan pagi dan kenyataan fiksi lewat berita koran pencari nafkah berdansa bersesakan disela kendaraan senyum merekah setiap kali lampu lalu lintas tak lagi merah ada candu fiktif yang ditebar oleh antrian para pekerja pada jalur alternatif ada harapan yang terkumpul pada kaca-kaca gedung yang saling memantul siang menjelang sore yang kepanasan, parkiran banjir kendaraan trotoar menghidupi para pedagang dan mengikat kaki pejalan pemuda joki dan pak polisi duduk bersama tanpa gengsi kota ini selalu bersenandung  baik di hari kerja pun hari libur lewat alunan musik dari suara kendaraan, penjaja dan mereka yang tertidur ironis mencari nafkah terdalam mistis dalam denting mesin pencari koin lalu  bercumbu dengan keluh lewat dunia maya tentang kota yang penuh malam kota ini pintar dalam menyembunyikan matahari dan sisi kelam mempe...