The Magical Bird
Dahulu kala, terdapat
kerajaan kecil di kaki bukit Nilgiri Hills. Kerajaan tersebut bernama Shangrila
dan dipimpin oleh raja yang arif dan bijaksana, Rishi Raj. Rishi Raj merupakan
raja yang baik dan dicintai oleh rakyatnya. Shangrila merupakan tempat
terpencil dengan taman dan pemandangan hijau yang indah. Bunga-bunga bermekaran
sepanjang tahun, banyaknya kicauan burung dan tempat bagi para hewan untuk
bersenda gurau. Cinta dan kedamaian terpancar jelas dari tempat tersebut.
Berdasarkan legenda
setempat, hal tersebut terjadi dikarenakan oleh Kokila, seekor burung tekukur.
Kokila hidup di pohon banyan yang tumbuh di taman di depan ruangan Raja. Kokila
merupakan burung yang buta, tetapi dia suara yang mempesona. Dia bernyanyi
sepanjang hari dan suaranya yang merdu tersebar di seluruh kerajaan membawa
cinta, kedamaian dan kebahagiaan.
Di sisi lain Bukit
Nilgiri terdapat kerajaan bernama Dongrila. Jika Shangrila melambangkan
kerajaan yang dipenuhi rasa cinta, damai dan kegembiraan, maka Dongrila adalah
penggambaran dari rasa beci, kekerasan dan penderitaan. Dongrila dipimpin oleh
Jagat Guru, yang mempunyai sifat pemarah dan egois.
Suatu hari, Jagat Guru
melewati Shangrila. Dia terpesona terhadap apa yang ia lihat. Ketika sampai dia
rumah, ia memanggil Perdana Menterinya, Gyan Deep.
“Gyan, pagi ini aku melewati Shangrila. Itulah
pertama kalinya aku kesana. Tempat tersebut benar-benar hebat. Sebuah tempat
yang cantik seperti yang terdapat di lukisan, tenang dan damai. Seperti surga.
Carilah tahu bagaimana Raja Rishi Raj mengurus kerajaannya sebegitu baiknya!”
“Baiklah, yang mulia” Jawab Gyan Deep sembari
membungkuk hormat.
Di hari yang sama, Gyan
Deep pergi ke Shangrila dan menyamar sebagai seorang pertapa. Dia menghabiskan
waktunya di kerajaan yang sering dibicarakan oleh orang-orang, berkeliaran di
jalan dan mengamati banyak hal. Akhirnya, setelah 10 hari, setelah puas dengan
informasi yang ia dapat, dia kembali ke Dongrila.
Pagi hari setelah ia
kembali, dia menemui Raja di kamarnya. “Yang mulia, saya menemukan rahasia
dibalik kesuksesan Raja Rishi Raj.”
“Apa itu?”
“Seekor burung bernama Kokila,” Gyan Deep mulai
bercerita tentang legenda Kokila kepada Raja.
“Hmm, aku harus menemukan cara bagaimana mendapatkan
burung tersebut. Gyan, siapkan sebuah perang. Ayo kita serang Shangrila dan
culik paksa burung tersebut.”
“Yang Mulia, hal tersebut tidaklah bijaksana. Anda
tahu bahwa di pasukan kita, para jenderal saling bertarung satu sama lainnya.
Banyak faksi yang saling menentang. Sementara pasukan milik Kerajaan Shangrila,
merupakan pasukan yang kuat dan berbadan kekar. Pasukan kita tidak akan pernah
bisa mengalahkan mereka.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Pergilah ke Shangrila dan buatlah permintaan kepada
Raja Rishi Raj untuk meminjamkan anda burung ajaib tersebut untuk beberapa
hari. Dia merupakan pribadi yang baik hati dan murah hati. Saya yakin dia akan
setuju.”
“Ya, aku pikir aku akan melakukannya”
*
Seminggu kemudian,
Jagat Guru pergi ke Shangrila dengan membawa banyak hadiah untuk Raja Rishi
Raj. Raja Rishi Raj menyambut dengan tangan terbuka dan perayaan budaya besar
yang diikuti oleh makan malam yang mewah. Sehari sebelum meninggalkan
Shangrila, Jagat Guru berkata kepada Raja Rishi Raj. “Saya punya permintaan
kecil”
“Apapun yang kamu minta, temanku.” Jawab Raja Rishi
Raj
“Aku ingin meminjam Kokila.”
“Kokila!” jawab Raja Rishi Raj kaget
“Iya, hanya untuk beberapa hari. Aku ingin
menggunakan keajaiban Kokila yang bisa memberikan kedamaian dan kebahagiaan
kepada kerajaanku.”
Raja yang malang, apa
yang akan ia lakukan? Dia telah memberikan janjinya kepada Jagat Guru. Dia
berpisah dengan Kokila, hatinya terasa berat dan sedih rasanya. Dia juga
mengirim 5 tentara yang paling ia percaya untuk menjamin keselamatan Kokila.
Segera setelah Jagat
Guru sampai di istananya, ia menaruh Kokila di sebuah kandang emas. “Yang
mulia, tolong jangan taruh Kokila di sangkar. Dia harus terbang bebas, tolong
jangan kungkung dia,” kata para tentara tersebut.
“Diam kalian bodoh! Kokila sekarang miliku. Aku akan
melakukan apa yang aku ingin lakukan dengannya!” gertaknya. Lalu berkatalah ia
kepada Gyan Deep, “taruh para orang bodoh ini di ruang bawah tanah. Mereka akan
hidup disini di sisa hidup mereka. Kokila milikku, dan akan bersamaku
selamanya.”
“Yang mulia, Raja Raj tidak akan tinggal diam...”
ucap Gyan Deep.
“Dia tidak akan menyerang Dongrila. Dia merupakan
kerabat yang baik hati. Hanya untuk seekor burung, dia tidak akan merelakan
hidup ratusan tentaranya.”
Gyan Deep tetap
terdiam. Dia sudah tahu tidak ada gunanya beradu argumen dengan seseorang egois
seperti Jagat Guru.
Dan juga, kasihan
Kokila yang terkurung di dalam sangkar emas dan hanya diberikan buah yang telah
dipilih sebelumnya. Tetapi kokila menolak untuk menyanyi. Jagat Guru memohon
bahkan melayani Kokila, tetapi tidak ada gunanya. Kokila tetap diam.
Jagat guru mulai
terlihat menyerah. Dia menghubungi beberapa dokter dan menyuruh mereka untuk
mengobati Kokila. Tetapi tidak ada yang salah dengan burung tersebut. Akhirnya,
dia tahu seseorang yang bijaksana, umurnya lebih dari 100 tahun, yang tinggal
di sebuah rumah kecil di Bukit Nilgiri. Nama pria itu Prashant Baba.
Suatu hari, jagat guru
pergi sendiri ke Ashram Prashant Baba. Dia melihat seorang pertapa, duduk di
bawah pohon banyan sedang bermeditasi. Walaupun rambutnya telah memutih dan
diwajahnya banyak sekali ditumbuhi janggut, wajahnya terlihat masih sangat
muda. Inilah hal-hal yang tidak pernah jaga guru lihat selama hidupnya. Dia
menyentuh kaki prashant baba dan duduk di depannya. Setelah beberapa menit,
prashant baba membuka matanya. Jagat guru menjelaskan tujuannya mengunjungi
prashant baba dan menceritakan semuanya. Prashant baba menatap jagat guru lalu
berkata, “apakah kamu benar-benar percaya bahwa kokila adalah seekor burung
ajaib?”
“Iya, tentu saja baba, itulah mengapa shangrila....”
“Kau bodoh!” potong prashant baba
“Apa? Berani sekali kamu memanggilku seperti itu.
Aku, Jagat Guru, Raja Dongrila, seorang yang bodoh?” Jagat Guru berdiri,
tangannya meraih sebuah pedang.
“Diam dan duduklah”, perintah Baba. Terdengar suara
yang sangat tegas di dalam suaranya dan penuh kekuatan dalam tatapannya yang
membuat jagat guru duduk seketika.
“Yang ajaib itu bukanlah suara Kokila. Yang ajaib
itu adalah sebuah benih milik Rishi Raj, raja Shangrila.”
“Aku tidak mengerti”
“Aku akan menjelaskan. Aku tahu semua permasalahan Dongrila adalah kemiskinan. Rishi raj adalah raja yang baik dan murah hati, dia
memperlakukan rakyatnya dengan cinta dan rasa hormat. Alaminya, mereka memahami
kualitas yang dimiliki oleh rajanya tersebut. Rasa cinta dan kebaikan yang
ditularkan sang raja semakin hari semakin besar dan menyebar di seluruh
kerajaan.”
Prashant Baba berhenti
sejenak dan memandang jagat guru, lalu melanjutkan,”sedangkan masalah yang kau
alami adalah kebalikannya. Kau seorang yang egois dan kejam. Kamu bahkan
membunuh kakakmu. Kau selalu tamak dan memperlakukan rakyatmu seperti budak.
Apa yang kau lakukan, itulah kualitasmu sebenarnya. Aku yakin kamu pernah
mendengar ucapan Sanskrit – yatha raja tatha praja- raja adalah utama.
Jagat Guru terdiam.
“Berapa lama kamu menahan Kokila?” tanya Baba
“Satu bulan”
“Pergilah ke Shangrila. Walaupun ketidakhadiran Kokila, Shangrila tetaplah negeri yang damai. Cinta dan kebahagiaan tetap
terjaga disana, sedangkan Dongrila...”Prashant Baba melihat ke arah jagat guru
dan menggelengkan kepalanya.
“Kenapa Kokila berhenti bernyanyi?”
“Dia menemukan bahwa suasana Dongrila sangat tidak
menyenangkan. Lebih dari itu, dia hidup di Shangrila dengan bebas tidak seperti
di tempatmu. Bawa kembali Kokila ke Shangrila dan mintalah maaf kepada Rishi Raj. Daripada mencoba mencuri ‘burung ajaib’, lebih baik cobalah untuk
memperlajari kualitas ‘ajaib’ dari seorang Rishi Raj."
Jagat Guru kembali ke
istananya dan menyuruh para tentaranya untuk menemani kokila. Lalu, dia membawa
burung itu ke Shangrila.
“Aku minta maaf, wahai temanku. Aku terbutakan oleh
kesalahanku sendiri.” Jagat guru meminta maaf kepada Raja Rishi Raj.
Rishi raj memeluknya, “Tidak pernah ada kata
terlambat untuk belajar,” ujarnya.
Setahun kemudian,
seorang pertapa memasuki benteng milik Jagat Guru. Sesaat Jagat Guru tidak
mengenalinya. Lalu tiba-tiba terlihatnya siapa pertapa itu. Dia berlari untuk
menyentuh kaki Prashant Baba dan mempersilahkanya duduk.
“Anakku, aku datang untuk memberikanmu sebuah doa.
Aku senang kau mendengarkan nasihatku. Aku sedang berjalan melewati kerajaanmu
dan terlihat betapa menyenangkan pemandangan disini. Aku bisa mendengar ribuan
suara kokila menyanyikan lagu ajaib mereka. Kenyataannya, sesaat aku tidak
yakin apakah aku berada di Shangrila atau Dongrila. Aku benar-benar sangat
bangga padamu.”
Ramendra Kumar
Komentar
Posting Komentar