Jakarta, Kota Kejam Kesayangan
dimulai dari matahari terbit dengan secangkir kopikota ini diburu-buru mimpi dan kejaran setoran
dijegal kemacetan pagi dan kenyataan fiksi lewat berita koran
pencari nafkah berdansa bersesakan disela kendaraan
senyum merekah setiap kali lampu lalu lintas tak lagi merah
ada candu fiktif yang ditebar oleh antrian para pekerja pada jalur alternatif
ada harapan yang terkumpul pada kaca-kaca gedung yang saling memantul
siang menjelang sore yang kepanasan, parkiran banjir kendaraan
trotoar menghidupi para pedagang dan mengikat kaki pejalan
pemuda joki dan pak polisi duduk bersama tanpa gengsi
kota ini selalu bersenandung
baik di hari kerja pun hari libur
lewat alunan musik dari suara kendaraan, penjaja dan mereka yang tertidur
ironis
mencari nafkah terdalam mistis dalam denting mesin pencari koin
lalu bercumbu dengan keluh lewat dunia maya tentang kota yang penuh
malam
kota ini pintar dalam menyembunyikan matahari dan sisi kelam
mempercepat waktu lewat pesatnya pembangunan mall bertingkat
racun metropolitan berupa cinta tanpa batas meski terpenjara lalu lintas
dibanyak sudut peluh dan belantara keluh, kita rindu kota ini tanpa rasa malu dan jenuh
dibanyak makian dan daftar keinginan kita rindu kota ini atas nama cinta dan keterikatan
jakarta, kota kejam kesayangan
Gw pernah update video di atas, sekitar tahun lalu, lebih tepatnya waktu jakarta ulang tahun yang ke 488 tahun. Video itu gw dapet dari akun Path temen gw yang doi kirim berkaitan ulang tahun Jakarta. Pertama kali liat dan denger narasi yang ada di dalam video tersebut, jujur rasa rindu gw terhadap Ibu kota segala bidang Indonesia ini, memuncak.
Beberapa hari lalu, gw menghadiri pernikahan seorang teman di Jakarta. Saat itu gw sangat excited untuk menghadirinya, selain karena itu nikahan teman, lalu dikarenakan pernikahannya diadakan di kota Jakarta. Kota yang hampir 5 tahun belakangan ini jarang gw singgahin, karena gw harus kuliah dan bekerja di kota luar.
Hal pertama yang buat gw kangen adalah, saat gw melewati jalan tol dari arah Cikampek, lalu terlihat tulisan "Selamat Datang di Tol Dalam Kota Jakarta", lalu seketika gedung bertingkat di kawasan Cawang, Gatot Soebroto, Mampang, Senayan hingga Taman Anggrek gw lewatin. Mungkin sedikit norak hinggap di otak gw saat ngeliat betapa banyaknya gedung sekarang di kawasan Mall Taman Anggrek dan Central Park. Karena dibayangan gw, daerah situ masih ada hanya 1 sampai belasan gedung yang masih gw hapal, sampai kemarin betapa banyaknya gedung mulai bermunculan.Lalu, ke keadaan cuacanya. Jujur, rasa gerah, kalo kata orang sunda "Hareudang" itu adalah salah satu hal yang gw kangenin. Ketika banyak orang ngeluh "Gila, panas banget, keterlaluan" atau "gerahnya pengen tobat", gw cuma bisa senyum. Karena gw seneng panas ini, panas seksi kalo kata gw. Gw gak perlu mengigil kedinginan, atau jadi manusia takut air karena dinginnya, karena setiap mandi di Jakarta pun gw gak akan mengalami namanya kedinginan, mandi bisa sampe 4 sampai 5 kali (kalo malem juga panas, biasanya gw mandiin diri sendiri).
Dan, macet beserta suara klakson.Gw mengalami itu saat gw kembali dari pernikahan temen gw itu. Gw lewat tol lingkar luar dengan asumsi "Dalam kota macet pasti", sayangnya asumsi gw salah. Sepanjang jalan, kecepetan ga lebih dari 60km/jam, ditambah pada merayap tanpa alasan dan keinginan pengen pipis yang gak bisa ditahan dan gak adanya rest area (ya kali rest area di tol dalam kota) makin bikin kebelet pipis adalah ritual sakral saat itu. Berasa mau ngebrojol bukaan ke 8, miring kiri kanan salah, tegap bungkuk salah, takut ada yang netes ntar *eh.Lalu, semua jadi hening karena gw pipis di mobil *salaaaaaaaaaah*
Hening, karena gw udah ngelewatin tol bekasi dan melewati tulisan "perbatasan propinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat", dan gw sedih.Dari arah kaca spion, gw ngelirik kearah gedung tinggi di belakang, seakan-akan mereka ngelambai ke gw sambil bilang "kapan pulang ke Jakarta?"
Iya, kapan pulang adalah pertanyaan yang selalu dipertanyakan semua kerabat, keluarga, teman dan semua hal berbau Jakarta ke gw, setiap harinya.
Saat ini, gw merantau ilmu, pekerjaan dan cinta di kota sebelah, Bandung.Kota yang merupakan "musuh" utama kota Jakarta, karena Persib-Persijanya, karena adat istiadat yang berbeda, karena kultur dan lingkungan yang berbeda, dan karena banyak lainnya.Gw besar di Jakarta, dengan beragam permasalahan di kota ini, mulai dari kesantunan, tata krama yang jarang keliatan, becandaan yang ga masuk akal, hingga rasa macet dan gak peduli, semuanya merupakan hal yang membentuk gw seperti ini. Gw kangen lingkungan dimana gw bisa jadi diri gw sendiri, tanpa ada orang menilai. Tanpa ada yang berpikir itu mengganggu. Gw kangen becanda dengan jokes ibukota yang sekarang udah makin gw lupain. Bukan gw lupain, tapi lingkungan gw sekarang membuat gw lupa itu semua.
Logat gw udah kedaerahan, tata krama gw makin halus kayak perempuan daerah, beda banget. Semua kenalan gw di Jakarta bilang gw bukan lagi orang Jakarta, tapi teknisnya gw masih orang Jakarta dengan bukti kuat KTP dan akan terus begitu.Ada sebuah kalimat yang bilang siapa suruh datang Jakarta atau Ibukota lebih kejam dari Ibu Tiri.Tapi gw rindu kota yang di larang di datengi itu.Gw rindu tempat kejam ituGw rindu semuanya
dibanyak sudut peluh dan belantara keluh, kita rindu kota ini tanpa rasa malu dan jenuh
dibanyak makian dan daftar keinginan kita rindu kota ini atas nama cinta dan keterikatan
Komentar
Posting Komentar