SENSITIF PILKADA

No offense, ini hanya sedikit keinginan kecil gw karena sudah sedikit tidak sependapat dengan orang-orang di negara ini.

Beberapa hari lalu, gw dan 7 juta warga Jakarta lainnya melakukan hak dan kewajiban kami sebagai warga negara dan warga Jakarta, milih Gubernur!
Jujur sih, jauh sebelum hingar bingar dan keriuhan pilkada tanggal 15 Februari kemarin, gw amat sangat teramat excited dengan Pilkada kali ini, kenapa?
Karena pilkada kemarin adalah pertama kalinya setelah Pilkada Jakarta tahun 2012 dan pemilihan Presiden 2014 yang keduanya memenangkan Jokowi, gw akhirnya memilih lagi !

Besar harapan gw terhadap pemilu kali ini. Tapi, ko runyam ya?

Jelas runyam. Hebohnya pemberitaan di media belakangan ini. Entah di portal berita, path, instagram bahkan yang paling hebih betapa 'bawel'nya timeline twitter gw belakangan ini, ada yang dukung 1, 2 atau 3. Ada yang beda pendapat sampe ada yang gak temenan lagi cuma gara-gara yang si A dukung si A, yang B dukung si B, bahkan keluarga gw sendiri terjadi perang. Bokap milih no 1, Tante gw maksa seluruh rumah milih no 3, nyokap kesel sama no 2 yang bikin doi akhirnya gak milih siapa-siapa, Ade gw milih kalo ga no 1 ya no 3 yang pasti bukan no 2, sedangkan gw? Milih cowok gw aja.

Pilkada DKI ini semakin membukakan mata gw dan banyak orang diluar sana, bahwa Indonesia yang selama ini kita bangga-bangga kan dengan keramahannya, dengan kebudayaan dan perbedaan suku agama, eh ternyata masih menyimpan di diri masing-masing rakyatnya bahwa "Indonesia adalah orang Jawa dan Muslim, sisanya hanya pengganggu yang bikin negara kacau".

Gak percaya?

Coba deh ngobrol sama nyokap bokap lo, memang gak semua tapi mayoritas mereka pasti bilang "pasti orang Batak/Kalimantan/Makassar ya? Pantes keras orangnya." atau "Calon temen kamu orang mana emang? Padang? Ih pelit." atau "Suaranya bagus ya!" "iya bagus, sering latihan di gereja sih sayangnya." Sering gak ngalamin begitu? Gw sih iya.

Keluarga gw penganut ya begitu. Selain orang jawa dan muslim semua bukanlah orang baik.
Gila, yang bener aja bisa nilai orang hanya dari agama sama sukunya.
Kalo nanti gw nikah dan dapet orang Padang gimana? Masih mau bilang laki gw pelit?

Beberapa waktu kemaren, Pak SBY kita itu rajin banget ngetweet dan curhat, kayak jaman-jaman gw galau dulu. Curhat apa aja dicurhatin. Sampe sampe ngeliat doi akhirnya bikin konferensi pers, yang ngeganggu gw nonton Titanic, bikin gw kesel setengah mati ngeliatnya.
Tapi gak dengan nyokap dan tante-tante gw, mereka fans garis keras SBY jadi tetep setuju apapun dengan pendapat SBY.

*

Itu sedikit gambaran di rumah gw, gw gak bisa bilang itu gambaran di rumah kalian, keluarga kalian atau tetangga kalian. Tapi hal-hal kayak gitu bisa kejadian.
Dari hal-hal itu gw melihat, bahwa orang-orang tua kita yang terdidik dengan rezim jaman dulu itu tabiatnya sama semua. Ketika kita bilang semua agama sama kok, mengajarkan kebaikan, jadi jangan salahkan agamanya tapi salahkan pribadinya, kita pasti dibilang liberal, gak punya agama, membela orang salah. Ketika kita muak dengan tata cara mimpin orang jaman dulu, kita dibilang gak punya etika, gak punya sopan santun.

Dan seketika, gw apatis sama Indonesia.

Gw apatis dengan rakyat Indonesia. Rakyat yang manut manut aja dengan kata pemimpin yang enak enak meres keringat kita, tidur diatas duit kita, hanya bisa bikin janji, curhat di media massa, terus minta dipilih lagi. Gw apatis dengan rakyat Indonesia yang masih ngeliat sesama rakyat Indonesia dari warna kulitnya, dari suku, dan agama. Gw apatis dengan rakyat Indonesia yang ingin mengagamakan negara ini tanpa mengagamakan diri dia sendiri. Gw apatis dengan rakyat Indonesia yang mudah menilai orang lain dengan kata-kata "dia jahat, dia dosa, dia gak punya hak disembayangin kalo dia meninggal karena dia memilih pemimpin kafir, dia pelit karena dia dari daerah A, dia tuh orang B liat aja mukanya muka jahat gitu".

Gw apatis dengan (rakyat) Indonesia.

Gimana nasib anak-anak gw nanti, kalo negara tempat mereka lahir nanti begini kacau balau. Masih dipegang dan digerakkan oleh orang-orang yang masih ngeliat dari luar, masih digerakkan dan dijalankan oleh orang-orang yang melihat dari sisi sebagai MAYORITAS bukan keseluruhan.

Tapi, ternyata gw cinta dengan negara ini.

Dan gw percaya, yang cinta dengan negara ini bukan hanya gw, tapi juga KALIAN.
Ya, kalian. yang baca tulisan asal dari gw ini.

Dan yang gw yakini, usia kalian kini seusia gw, something 20. Dimana kita mau perubahan, untuk kita dan negara kita dan mungkin juga untuk anak-anak kita.

Stop menilai seseorang dari luar. Stop menilai darimana dia berasal, apa agamanya.
Karena yang berhak menanyakan apa agamamu, siapa Tuhan mu, siapa Nabi mu, apa kitab mu, bukanlah tugas kalian, tapi malaikat Munkar dan Nakir.
Jadi, kalian bukan Malaikat kan?
Stop untuk melakukan hal-hal diatas, tapi mulailah melihat seseorang dari pribadi orang tersebut.
Enggak mau?


Yaudah, ikut demo aja sampe jilid 100, enak kok dapet nasi bungkus.




NB : Jika ada yang merasa tersinggung, maaf, ini hanya tulisan dan unek-unek saya kok. Kalo mau marah-marah silahkan, tapi saya bukan customer service. Kalo mau bagi pendapat, kemon kita sharing. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Tersembunyi bernama Pasar Senen

Ahjussi Rasa Oppa

Ketika Tulang Rusuk menjadi Tulang Punggung