Cinta yang Pertama
Di sebuah Toko Buku di daerah Matraman, 25 Agustus 2017
Sore itu, saya dan adik saya akan membeli beberapa buku. Untuk saya pribadi, saya selalu meluangkan sedikit waktu dan uang saya untuk membeli minimal 1 buku dalam 1 bulan. Ketika sedang asyik memilih-milih buku, tiba-tiba kami mendengar pengumuman bahwa akan diadakan acara book talkshow dan book signing oleh Andrea Hirata, hari itu, di tempat tersebut, di jam tersebut, dan syaratnya hanya harus membeli buku Andrea Hirata yang terbaru yang berjudul Sirkus Pohon. Akhirnya, karena adik saya ingin melihat Andrea Hirata dan ini adalah pertama kalinya saya mengikuti acara book signing dengan seorang penulis besar, maka saya pun tertarik untuk bergabung.
Sekilas tentang Andrea Hirata. Saya membaca bukunya yang pertama yaitu Laskar Pelangi itu ketika saya kelas 1 SMA sekitar tahun 2007, lalu beberapa tahun kemudian filmnya hadir. Tetapi, beberapa sekuel dari Laskar Pelangi atau beberapa novel Andrea lainnya tidak saya baca. Entah. Dan saya baru membeli bukunya baru tadi malam. Andrea ternyata tidak tinggi, tingginya tidak terlalu jauh dari tinggi saya, tapi mempunyai senyum yang ramah.
Di salah satu bagian acara tersebut, Andrea meminta beberapa orang yang hadir saat itu untuk maju ke depan dan menceritakan tentang pengalaman cinta pertama mereka. Orang pertama yang maju adalah seorang wanita muda, mungkin sekitar 22 atau 23 tahun. Begini cerita cinta pertamanya :
"Cinta pertama saya dulu itu terjadi ketika saya SD, dia kakak kelas saya, dengan beda usia 2 tahun. Tapi karena dulu saya masih kecil dan malu, saya tidak berani mengajaknya berkenalan, walau pada akhirnya saya tahu namanya tapi tetap kami tidak bisa dekat" Lalu Andrea bertanya, "Sekarang, bagaimana kabar cinta pertama kamu? Masihkah kamu tahu kabarnya?" Perempuan muda itu menganggukkan kepalanya dan berkata, "Iya, dia akan menikah dalam waktu dekat ini."
Lalu, setelah perempuan muda itu bercerita, Andrea mengajak seorang pria, mungkin usianya sekitar 40 tahunan. Dan ini cerita cinta pertamanya :
"Cinta pertama saya itu dulu saat saya SMA. Dia teman sekelas saya. Saya tidak pernah mencoba untuk mendekat kepadanya atau sekedar mengajaknya berbicara. Karena saya tahu, latar belakang keluarga saya dan dia sangat jauh. Ayahnya adalah seorang dokter, sedangkan saya adalah seorang anak dari guru SD. Saya bertemu lagi dengannya sekitar 2 atau 3 tahun lalu, saat reuni SMA. Tapi, ya itu cerita cinta pertama saya. Saya telah menikah dan juga dengannya."
Seketika, saya tersenyum mendengar dua cerita tersebut. Dan saya teringat tentang cinta pertama saya. Lalu saya berpikir, siapa ya cinta pertama saya? Yang pasti dia bukanlah gebetan pertama saya ataupun pacar pertama saya. Dia adalah seseorang yang mengenalkan saya bahwa rasa deg-degan saat berhadapan dengan dia itu sangat bermakna, bahwa hanya melihatnya dari balkon atas itu bahagia, bahwa melihatnya tertawa dengan teman-temannya itu baik dan melegakan.
Sore itu, saya dan adik saya akan membeli beberapa buku. Untuk saya pribadi, saya selalu meluangkan sedikit waktu dan uang saya untuk membeli minimal 1 buku dalam 1 bulan. Ketika sedang asyik memilih-milih buku, tiba-tiba kami mendengar pengumuman bahwa akan diadakan acara book talkshow dan book signing oleh Andrea Hirata, hari itu, di tempat tersebut, di jam tersebut, dan syaratnya hanya harus membeli buku Andrea Hirata yang terbaru yang berjudul Sirkus Pohon. Akhirnya, karena adik saya ingin melihat Andrea Hirata dan ini adalah pertama kalinya saya mengikuti acara book signing dengan seorang penulis besar, maka saya pun tertarik untuk bergabung.
Sekilas tentang Andrea Hirata. Saya membaca bukunya yang pertama yaitu Laskar Pelangi itu ketika saya kelas 1 SMA sekitar tahun 2007, lalu beberapa tahun kemudian filmnya hadir. Tetapi, beberapa sekuel dari Laskar Pelangi atau beberapa novel Andrea lainnya tidak saya baca. Entah. Dan saya baru membeli bukunya baru tadi malam. Andrea ternyata tidak tinggi, tingginya tidak terlalu jauh dari tinggi saya, tapi mempunyai senyum yang ramah.
Di salah satu bagian acara tersebut, Andrea meminta beberapa orang yang hadir saat itu untuk maju ke depan dan menceritakan tentang pengalaman cinta pertama mereka. Orang pertama yang maju adalah seorang wanita muda, mungkin sekitar 22 atau 23 tahun. Begini cerita cinta pertamanya :
"Cinta pertama saya dulu itu terjadi ketika saya SD, dia kakak kelas saya, dengan beda usia 2 tahun. Tapi karena dulu saya masih kecil dan malu, saya tidak berani mengajaknya berkenalan, walau pada akhirnya saya tahu namanya tapi tetap kami tidak bisa dekat" Lalu Andrea bertanya, "Sekarang, bagaimana kabar cinta pertama kamu? Masihkah kamu tahu kabarnya?" Perempuan muda itu menganggukkan kepalanya dan berkata, "Iya, dia akan menikah dalam waktu dekat ini."
Lalu, setelah perempuan muda itu bercerita, Andrea mengajak seorang pria, mungkin usianya sekitar 40 tahunan. Dan ini cerita cinta pertamanya :
"Cinta pertama saya itu dulu saat saya SMA. Dia teman sekelas saya. Saya tidak pernah mencoba untuk mendekat kepadanya atau sekedar mengajaknya berbicara. Karena saya tahu, latar belakang keluarga saya dan dia sangat jauh. Ayahnya adalah seorang dokter, sedangkan saya adalah seorang anak dari guru SD. Saya bertemu lagi dengannya sekitar 2 atau 3 tahun lalu, saat reuni SMA. Tapi, ya itu cerita cinta pertama saya. Saya telah menikah dan juga dengannya."
Seketika, saya tersenyum mendengar dua cerita tersebut. Dan saya teringat tentang cinta pertama saya. Lalu saya berpikir, siapa ya cinta pertama saya? Yang pasti dia bukanlah gebetan pertama saya ataupun pacar pertama saya. Dia adalah seseorang yang mengenalkan saya bahwa rasa deg-degan saat berhadapan dengan dia itu sangat bermakna, bahwa hanya melihatnya dari balkon atas itu bahagia, bahwa melihatnya tertawa dengan teman-temannya itu baik dan melegakan.
*
Namanya Dan. Dia kakak kelas saya saat SMA. Saya bertemu dengannya saat Ujian Tengah Semester atau UTS. Sekolah saya saat itu menerapkan setiap kelas diisi oleh 20 siswa dari kelas 10 (atau kelas 1 sma) yang digabung dengan 20 siswa dari kelas XI atau XII, dan saya disatukan dengan kelas XI IPS 5. Saya masih ingat betul. Bahkan saya masih ingat posisi saya duduk. Saya duduk di baris ke4 pada baris pertama dekat pintu, sedangkan Dan duduk di baris pertama pada baris ke3 dekat dengan meja guru. Jadi, apapun yang Dan lakukan itu berdampak pada saya, entah menutup pandangan guru pengawas ke arah saya (yang membuat saya jadi leluasa menyontek) atau malah saya jadi sasaran utama guru pengawas jika Dan sengaja menaruh kepalanya di meja karena malas mengerjakan soal ujiannya.
Karena saya sering melihat ke arah guru pengawas, yang berarti membuat saya juga jadi sering melihat kearahnya, Dan bukanlah tipe siswa atau kakak kelas yang wajib diidolakan. Penampilannya tidak bagus, tidak juga tampan. Dia tidak wangi tapi juga tidak bau. Dan hanya seorang siswa biasa, yang pendiam tapi ternyata pintar yang tidak terlalu suka terlihat di depan guru tapi lebih senang terlihat di depan guru BP. Lalu apa yang membuat saya, tergila-gila padanya?
Dan mempunyai bahu yang tegap. Karena posisi saya yang dibelakang, maka saya bisa lebih jelas melihat punggung serta bahunya. Dia tidak gendut, berisi ataupun kurus. Badannya bagi saya cukup, tidak pula berotot. Satu yang membuat ia terlihat unik, dia tidak pernah berjalan tegak. Cara berjalannya agak bungkuk dengan tangan kanan terkepal yang selalu ia gunakan untuk menutupi mulutnya. Ya, itulah Dan.
Selama satu minggu UTS tersebut, saya tahu bagaimana Dan. Dia suka datang telat, berpakaian tidak rapi, bahkan ada 1 moment dia merokok di dalam kelas saat istirahat bersama teman-temannya. Dan, bahkan pernah berkelahi hingga menyebabkan kemeja sekolahnya bercorak darah. Ya, saat itu teriak histeris, maklum.
Sejak itu, hampir semua orang di kelas saya menjadi saksi betapa saya menyukai Dan. Tak jarang beberapa teman Dan yang juga sekelas dengan saya saat itu 'membantu' saya dekat dengan Dan. Dan mempunyai kelas yang letaknya ada di bawah kelas saya, dekat tangga menuju pintu kantin belakang. Jadi, saya selalu suka lewat situ karena saya bisa leluasa melihat Dan yang sedang berkumpul dengan teman-temannya.
Hingga, masa UAS datang. Kami kembali sekelas. Dan duduk diposisi yang sama. Saya masih ingat betul ada 1 kejadian yang membuat saya dengan Dan pada akhirnya bisa saling tukar sapa dan senyum. Saat itu Dan dengan 1 temannya datang telat. Seperti biasa tidak berpakaian rapi, dan kebetulan yang menjadi guru pengawas saat itu adalah guru biologi yang terkenal galak. Tentu saja, celana Dan yang sempit jadi sasaran utama. Alhasil ia diwajibkan mengganti celananya dengan sarung yang ada di mesjid. Jadi selama ujian hari itu, bisa dibayangkan ia duduk dengan sarung.
Kebetulan kelas yang kami tempati be-AC yang cukup dingin. Tiba-tiba di tengah keheningan, Dan berbicara lirih dengan guru pengawas tersebut. "Bu, dingin" ujarnya. Spontan seluruh kelas tertawa. Dari belakang, temannya yang duduk di sebelah saya berteriak "Hati-hati Dan, mengkerut nanti," sedangkan temannya yang lain menimpali, "Bukan mengkerut lagi, menciut" dan tertawalah seluruh kelas. Saya, saat itu hanya diam saja mendengarnya, bukan karena tidak lucu, hanya ujian mata pelajaran Ekonomi sungguh tidak saya sukai. Tiba-tiba, teman Dan yang duduk disebelah saya bernama oknum S berteriak sambil menunjuk saya, "Bu, nih Kanya pacarnya senyum-senyum aja Bu," lantas saya kaget dan seluruh kelas kompak mengatakan "Cieeee". Guru pengawas tersebut berdiri lalu menunjuk ke arah saya, "Kamu pacarnya dia?" tangannya menunjuk ke arah Dan. Saya hanya menggeleng sambil mengatakan "Tidak Bu, bukan." Lalu, beliau menanyakan ke beberapa siswa yang duduk di barisan terdepan bahwa benarkah saya pacarnya Dan, dan semua kompak bilang iya. Saya hanya diam tidak bisa menggubris apapun.
Guru pengawas tersebut berjalan ke arah saya sambil mengatakan, "Kamu tuh kalo punya pacar kasih tahu bagaimana berpakaian yang baik. Masa kamu rapi dia enggak rapi. Yaudah, dia kedinginan tuh, sana kamu pindah duduknya temenin dia ya," Saya kaget luar biasa, saya mengatakan tidak mau, tapi guru pengawas tersebut ternyata telah menyuruh teman saya yang duduk di sebelah Dan untuk bertukar tempat dengan saya. Dan matilah saya.
Duduk di sebelah orang yang saya sukai, dengan keadaan dia memakai sarung. Waktu ujian masih 30 menit lagi dan masih ada 15 soal Ekonomi yang seketika bahkan pertanyaannya saja tidak bisa saya baca. Saya melirik ke arah Dan. Saya melihat, kertas ujiannya pun masih kosong bersih. Dia saat itu ujian Bahasa Jerman sedangkan saya Ekonomi. Guru pengawas tersebut masih saja berbicara tentang kami berdua yang membuat kelas makin ribut dan membuat kami berdua makin tidak bisa mengerjakan soal tersebut. Anehnya, 15 menit setelah saya duduk disebelahnya, Dan berdiri dan menyerahkan soal ujiannya dan jawabannya yang menandakan ia berhasil. Seluruh kelas kaget, tidak terkecuali saya.. Bahkan setelah kelas, salah satu temannya menanyakan pada saya bagaimana cara Dan menyelesaikan soal ujian itu dengan sangat cepat. Saya pun tak tahu.
Hubungan kami mulai mencair. Kami kadang bertukar sapa atau senyum. Tentu saat tidak ada teman-temannya di samping dia. Bahkan, tukar obrolan ringan jika hanya ada saya dan dia bertemu di kantin atau koperasi.
Februari 2008. Memasuki semester 2 tahun itu, saya mulai menjalin hubungan dengan beberapa pria. Dan pun mulai saya lupakan. Ketika bertemu, tak ada sapa atau senyum ramah dari saya untuk dia. Walau candaan dari teman-temannya untuk kami masih tetap ada. Saya dengan Dan mulai menjauh.
Lalu, saya naik kelas XI dan Dan naik kelas XII. Yang berarti tak lama lagi ia akan lulus dan meninggalkan sekolah. Saat itu, saya sendiri begitupun dengan Dan.
November 2008. Seorang teman saya, sebut saja dia T, tiba-tiba menangis mengatakan bahwa kekasihnya akan melanjutkan kuliah di Universitas Andalas, Padang, dimana mereka akan menjalani hubungan jarak jauh. Seketika saya ingat, berarti keberadaan Dan di sekolah ini hanya beberapa bulan lagi. Sejak saat itu, saya terpikir untuk memberikan Dan sebuah hadiah perpisahan. Tapi apa?
School Trip ke Jogja membuat saya berpikir untuk memberikan Dan sweater, karena ia senang mengenakan sweater berwarna hijau lumut miliknya ke sekolah. Tapi, saya buang jauh-jauh ide itu. Semakin saya berpikir tentang hadiah apa yang akan saya berikan padanya, saat itu juga saya makin banyak menemukan fakta menarik tentang Dan.
Dia adalah anak satu-satunya. Ayahnya hanya bekerja sebagai tukang las dari satu rumah ke rumah lainnya sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga. Rumahnya hanya berjarak 500 m dari sekolah, jadi dia hanya berjalan kaki, tidak menggunakan motor canggih atau bahkan mobil pemberian orangtua. Tapi, Dan ternyata anak yang cukup berprestasi. Dia fasih berbahasa Inggris, di kelas pun ia selalu juara. Tapi, ia memang tetap tak mau terlihat mencolok. Ia tetap ingin dikenal sebagai Dan yang berpakaian tidak rapi, senang nongkrong di warung seberang sekolah, dan cuek dibanding sebagai siswa berprestasi.
Februari 2009. Ayah Dan meninggal. Seketika saya tahu apa yang Dan rasakan. Kami mulai dekat lagi, kami mulai saling tukar sapa dan senyum lagi. Saya saat itu mengiriminya pesan walau beberapa temannya mengajak saya untuk datang kerumahnya, tapi saya menolak. Saat itu, saya tahu Dan tidak akan melanjutkan kuliah. Ia memilih untuk bekerja dan berjuang dengan ibunya, berdua.
Maret 2009, UN telah terlewati tapi kado untuk Dan belum ada.
Lalu, datang lah pelajaran Seni yang membahas tentang tanah liat. Saat itu, saya berpikir untuk membuatkan Dan sebuah asbak berbentuk gitar. Karena saya tahu dia senang merokok dan bermain gitar.
Awalnya, Ardel teman saya yang membuatkan asbak tersebut, tapi gagal karena entah kenapa menjadi retak, lalu saya membuat lagi, tapi ketika saya membawa ke sekolah untuk diwarnai (saya bahkan meminjam cat oleh teman paduan suara saya) ternyata patah oleh teman saya. Padahal hari itu adalah 3 hari menjelang wisuda kelulusan Dan, di bulan Mei 2009.
Ketika semua orang mengatakan, "Nya, udah beliin aja sweater, enggak usah bikin lagi," saya hanya bilang, "Enggak, kalau sampe hari H gw belum dinyatakan gagal, maka sekarang belum gagal." Lalu, saya pulang ke rumah, membuat asbak kembali menggunakan sisa tanah liat yang saya buat. Menaruhnya di belakang kulkas, atau di kamar saya dengan pesan "kipas angin di kamar tidak boleh dimatikan" maka, hebatnya 1 hari menjelang hari wisuda (saya paduan suara maka saya pun ikut datang ke wisuda tersebut) asbak itu telah jadi dan kering sempurna ! Saya hiasi dengan hiasan simpel dan bungkus kado berwarna hijau lumut polos. Tanpa pesan apapun didalamnya.
Hingga saya akhirnya bisa memberikannya kepada Dan. Saya masih ingat apa yang saya bicarakan kepada Dan saat itu, "Dan, ini asbak buat lo, mungkin lo tahu gimana perasaan gw ke lo. It's okay apapun tanggapannya, tapi maaf gw hanya bisa kasih asbak ini ke lo, enggak bisa lebih." Ya, Dan menerimanya tersenyum lebar dan mengatakan, "Gw juga minta maaf Nya, jika ada hal yang bikin lo sakit hati, gw senang bertemu lo di sekolah, lebih heboh aja kalo ada lo. Sekali lagi terima kasih ya"
Kami bersalaman, hingga tanpa disadari itulah terakhir kalinya kami bertemu.
Dan dan saya masih suka berkomunikasi beberapa waktu setelah itu beberapa kali, tapi hanya menanyakan kabar, bahkan Dan menyemangati saya saat saya akan UN tahun 2010.
Setelahnya, kami tak tahu kabar masing-masing.
*
Cinta yang pertama. Ternyata setelah menulis ini saya sadar, bahwa orang yang memberikan kenangan cinta pertama pada saya bukanlah orang yang bermewah mewah dengan apa yang dia punya. Dia orang yang sederhana, sangat sederhana, dengan pikiran yang sangat sederhana dengan 1 tujuan, membahagiakan orangtuanya, dan berhasil membuat saya tahu apa artinya cinta pertama.
Beberapa minggu lalu, di Instagram Explore saya, saya menemukan akun Instagram milik Dan. Ia kini lebih terlihat gendut atau mungkin lebih berisi, dengan tatanan rambutnya yang rapi tidak seperti dulu yang ikal berantakan. Ia tidak lagi bungkuk atau malu, kini ia lebih tegap menjalani semua kegiatannya. Lalu, saya memfollownya.
Tidak berapa lama, tidak sampai 5 menit, Dan memfollow saya.
Jika suatu saat nanti kami bertemu, mungkin kami bukanlah Anya dengan Dan 10 tahun lalu, yang senyum-senyum jail hanya karena asbak atau sarung. Tapi lebih dari itu.
Tidak ada yang tahu. Entah saya, Dan ataupun orang lain.
Mungkin semuanya akan terjawab saat reuni akbar SMA kami, November nanti :)
Tidak ada cinta pertama yang tidak dahsyat. Jadi, jika kamu ingin menulis, tulislah tentang cinta pertamamu
- Andrea Hirata
Mendengarkan Sherina - Cinta Pertama dan Terakhir
Komentar
Posting Komentar