Iritasi Ringan
Kamu.
Tak banyak yang ku tahu tentangmu.
Yang ku tau adalah suara konyolmu yang selalu terdengar tatkala siang yang membosankan dengan setumpuk pekerjaanku.
Kamu hadir sesukanya.
Aku tak peduli.
Lantas, kamu hadir.
Kali ini kamu tak pergi.
Kamu malah memberikan nyaman.
Bagaimana tidak nyaman?
Kamu dengan mudahnya menceritakan masa lalumu, segala rasa sakit dan amarahmu.
Kepadaku.
Dan aku menerimanya.
Kita berdua saling berbagi, bercerita, bertukar rasa sakit, amarah dan bertukar obat demi menghilangkan masa lalu masing-masing.
Perbedaan besar tak kita hiraukan.
Cibiran orang-orang kita tampikkan
Hingga
Ada rasa nyaman dan tak mau kehilangan darimu untukku.
Begitu pula aku.
Ah Mas,
Nyaman sekali rasanya bersamamu. Tak perlu ku menjadi orang lain.
Ya saking tidak perlu menjadi orang lain, tanpa ku sadar, atau mungkin tanpa kamu sadar, rasa memiliki mulai menghinggapi kita berdua.
Aku yang tak rela tak mendengar kabar tentangmu barang sehari.
Dan kau yang tak rela tak mendengar celotehan dariku setiap jam.
Kita hidup di dunia masing-masing.
Kau yang memegang Alkitabmu
Aku yang memegang Al-Quranku.
Lantas tak membuat kita makin menjauh.
Hingga,
Saat dunia menyadarkan kita berdua bahwa,
Ada peran yang tak mungkin kita berdua satukan.
Ini bukan lagi permasalahan masa lalu atau rasa sakit.
Ini tentang bagaimana kita berdua menatap masa depan
Ini tentang bagaimana kita tahu bahwa berjalan lebih jauh hanya akan memperparah luka yang sedari awal tak pernah kita hiraukan.
Dan kita tahu kita tak akan pernah bisa menyembuhkan luka itu.
Karena, kita berdua pun hanya 2 orang yang masih terluka.
Hingga akhirnya memilih untuk menjauh.
Ya, segila itulah aku dan kamu, Mas.
Tak banyak yang ku tahu tentangmu.
Yang ku tau adalah suara konyolmu yang selalu terdengar tatkala siang yang membosankan dengan setumpuk pekerjaanku.
Kamu hadir sesukanya.
Aku tak peduli.
Lantas, kamu hadir.
Kali ini kamu tak pergi.
Kamu malah memberikan nyaman.
Bagaimana tidak nyaman?
Kamu dengan mudahnya menceritakan masa lalumu, segala rasa sakit dan amarahmu.
Kepadaku.
Dan aku menerimanya.
Kita berdua saling berbagi, bercerita, bertukar rasa sakit, amarah dan bertukar obat demi menghilangkan masa lalu masing-masing.
Perbedaan besar tak kita hiraukan.
Cibiran orang-orang kita tampikkan
Hingga
Ada rasa nyaman dan tak mau kehilangan darimu untukku.
Begitu pula aku.
Ah Mas,
Nyaman sekali rasanya bersamamu. Tak perlu ku menjadi orang lain.
Ya saking tidak perlu menjadi orang lain, tanpa ku sadar, atau mungkin tanpa kamu sadar, rasa memiliki mulai menghinggapi kita berdua.
Aku yang tak rela tak mendengar kabar tentangmu barang sehari.
Dan kau yang tak rela tak mendengar celotehan dariku setiap jam.
Kita hidup di dunia masing-masing.
Kau yang memegang Alkitabmu
Aku yang memegang Al-Quranku.
Lantas tak membuat kita makin menjauh.
Hingga,
Saat dunia menyadarkan kita berdua bahwa,
Ada peran yang tak mungkin kita berdua satukan.
Ini bukan lagi permasalahan masa lalu atau rasa sakit.
Ini tentang bagaimana kita berdua menatap masa depan
Ini tentang bagaimana kita tahu bahwa berjalan lebih jauh hanya akan memperparah luka yang sedari awal tak pernah kita hiraukan.
Dan kita tahu kita tak akan pernah bisa menyembuhkan luka itu.
Karena, kita berdua pun hanya 2 orang yang masih terluka.
Hingga akhirnya memilih untuk menjauh.
Ya, segila itulah aku dan kamu, Mas.
Komentar
Posting Komentar