Yogyakarta dan semua yang tertinggal didalamnya (Part 3 selesai)

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu.
-Kla Project-

Jogja berhati mantan, begitu kata Arman Dhani, editor di Mojok.co
Bagi saya lebih dari itu. Perjalanan di bulan Januari 2018 kemarin membuat saya sadar banyak hal tapi sulit untuk menceritakannya. Ketika saya mengatakan saya jatuh cinta dengan Bandung karena itulah rumah kedua saya dan karena penuh banyak kenangan, tapi berbeda makna ketika saya mengatakan  saya jatuh cinta dengan Yogya.

Walau saya harus mengakui bahwa Yogya sangat mirip dengan Bandung di beberapa sudutnya, tapi ada yang berbeda dengan Yogyakarta. Yogya mengajarkan saya untuk bisa sedikit lebih dewasa dan caranya hidup di tengah hingar bingar peluh banyak orang.

Di Yogya, saya menemukan sangat banyak alasan untuk menjadi diri saya sendiri. Tentang bagaimana saya harus legowo menerima sambutan kurang ramah dari tuan rumah, tentang bagaimana saya bisa belajar 'nrimo dari kehidupan Abdi Dalem, tentang bagaimana masa lalu bersatu dan membentuk kehidupan modern, tentang bagaimana saya menerima kesendirian saya, tentang bagaimana menjadi sederhana, tentang bagaimana hebatnya tubuh dan jiwa saya menemani saya selama di Yogya dan tentang bagaimana saya begitu optimis menyelesaikan semuanya ketika mendengar kata 'Rumah'. Ya, Yogya mengajarkan saya bahwa ternyata dibalik itu semua, saya punya rumah tempat saya pulang, ratusan kilometer jauhnya. Sebuah tempat saya disambut dan tidak sendiri.

Kalau ada yang bilang "Jogja berhati mantan" mari kita pahami dulu apa arti kata mantan. Mantan adalah sebuah kata yang bermakna sebuah pengalaman yang mengajarkan saya arti menjadi dewasa. Dan memang benar adanya.

Saya tidak pernah tinggal di Yogya, saya pun hanya menjalani 2 hari saya di Yogya sebagai wisatawan. Tapi, fase kesendirian saya terisi dengan pengalaman saya mengarungi luasnya kota dan setengah rahasia dari kebudayaan besar dari sebuah kota bernama Yogyakarta.

Dan saya merasakan sedih yang luar biasa di pagi hari, ketika saya berdiri di depan Stasiun Tugu untuk kembali ke Jakarta. Bukan karena liburan saya telah berakhir, tapi sesuatu di kota ini mengajarkan saya 1 hal lagi yang tak kalah penting,

Berdamai dengan masa lalu.







NB : Kapan bisa ke Yogya lagi? Masih banyak yang belum dikunjungin ih :(

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surga Tersembunyi bernama Pasar Senen

Ahjussi Rasa Oppa

Ketika Tulang Rusuk menjadi Tulang Punggung