Yogyakarta dan semua yang tertinggal didalamnya (Part 2)
Kupercaya selalu ada sesuatu di Jogja
-Adhitia Sofyan-
Hari kedua saya di Yogyakarta. Hari ini, saya bangun pagi karena perjalanan saya lumayan jauh, keluar kota Yogya, saya menuju Prambanan. Berbekal informasi yang saya dapat dari teman-teman saya dan host saya, maka saya menggunakan Trans Jogja menuju Prambanan. Berjalan kurang lebih 10 menit dari homestay saya, saya menaiki TransJogja dari depan Istana Presiden. Inilah syok saya yang ketiga. Petugas karcis TransJogja jutek :( saya ini kan turis, saya tanya "Kalo 1 tiket berapa ya Mas? Cara belinya gimana?" dan cuma dijawab "Emang mau kemana?" saya jawab Prambanan, dan dijawab tanpa melihat ke arah saya "3500". Tuhan saya mau nangis. Mana ini warga Yogya yang katanya ramah?
Lantas, saya tak ambil pusing. Saya tunggu TransJogja saya dan tak lama datanglah bis yang ditunggu. Perjalanan ini cukup menyenangkan untuk saya. Bagaimana tidak menyenangkan? Saya berkeliling kota Yogya, menggunakan transportasi umum, bertemu dengan warga Yogya lainnya, melewati banyak tempat. Jogja Expo Centre, Universitas Atmajaya Jogjakarta, melewati jl. Majapahit, mungkin jalan ini salah satu jalan terbesar di Yogyakarta, dan yang membuat saya sempat bingung adalah TransJogja ini masuk bandara !
Iya, saya naik TransJogja dan itu membuat saya masuk Bandar Udara Adi Sucipto. Guys, pernah berpikir engga kalau Trans Jakarta masuk ke Halim atau Soekarno Hatta? Itulah yang membuat saya kagum sama Yogya selanjutnya.
Perjalanan Malioboro-Prambanan ternyata tidak lama, hanya sekitar 45 menit saja. Turun di halte pemberhentian terakhir Prambanan, hal pertama yang harus saya lakukan adalah cari Alfamart, Indomart atau sejenisnya karena kamera polaroid saya kehabisan batere. Dan, setelah berjalan kurang lebih 15 menit ditambah bertanya kesana sini dimana ada Alfamart atau sejenisnya, saya menemukannya. Letaknya memang di pinggir jalan tapi posisinya melewati Candi Prambanan, yang berarti saya harus berjalan lebih jauh lagi.
Kaki, tolong maafkan saya.
Setelah menemukan Alfamart dan membeli batere, saya memulai perjalanan saya ke Candi Prambanan. Nah, disinilah semuanya bermula. Jam di ponsel masih menunjukkan pukul 9 pagi ketika saya membeli tiket masuk ke Prambanan.
*
Enaknya berlibur sendiri adalah saya tidak perlu sibuk memikirkan kemauan banyak orang. Dan itulah saya di Prambanan ini. Disaat tempat ini penuh dengan rombongan sekolah, ibu-ibu PKK, keluarga yang hanya berfoto-foto, saya malah menikmati perjalanan dan cerita-cerita yang saya temukan di relief 3 candi besar di komplek candi Prambanan.
Semua hal tentang Prambanan, akan saya ceritakan di post berbeda ya :)
Prambanan bukan tentang candi-candi didalamnya. Prambanan bukan tentang Roro Jonggrang atau Bandung Bondowoso. Prambanan adalah ketika saya menemukan sebuah ayunan yang berfungsi sebagai tempat duduk yang pemandangannya langsung mengarah ke arah 3 candi besar di Prambanan.
Syukur, hari itu Yogya panas terik. Hujan tidak hadir dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan hadir di siang itu. Saya tidak berpikir apa-apa selain betapa damainya jika saya tinggal disini. Duduk di ayunan ini, sambil memandang ke arah Candi-candi itu, 1 kalimat yang tertulis di buku catatan saya adalah :
Siapa Roro Jonggrang hingga bisa membuat seorang pria hebat macam Bandung Bondowoso frustasi dan bersedia membuatkan 100 candi dalam waktu semalam?
*
Teman saya menghubungi saya dan mengatakan "Kalo mau makan siang gampang di McD aja, di jalan Soedirman. Nanti lo naik TransJogja lagi turun di RS Bethesda. Jalan sekitar 500 meter lah nanti nemu Mcd"
Oke, karena saya buta Yogya lantas saya mengikuti saran teman saya itu. Maka, saya berbisik pada kaki saya untuk sedikit lebih kuat lagi karena kami akan berjalan jauh lagi ke arah Pasar Prambanan untuk naik TransJogja. Setelah membayar 3500, saya menikmati lagi TransJogja saya. Karena sudah siang, maka kali ini TransJogja yang saya tumpangi sedikit penuh. Dan, ini hal yang membuat saya kagum lagi, ternyata Yogya bisa macet juga ya. Saya sedikit norak sih, melihat banyak mobil berseliweran di Yogya, macet yang menyebabkan perjalanan Prambanan-Bethesda selama kurang lebih 1 jam.
Turun di Halte RS.Bethesda maka bukan hanya kaki saya yang mengeluh, perut dan tenggorokan saya ikut-ikutan mengeluh juga, maka, ketika melewati kumpulan warung-warung makan yang berjejer di samping rumah sakit, saya terpaksa duduk disana "Udah deh gue makan disini aja". Makan siang dengan seporsi bakso dan es buah.
Dan saya baru tahu, kalo tempat es dan bakso ini sudah terkenal, setelah saya bilang temen saya "McD kejauhan, gue makan baso aja di seberang Novotel". Namanya Baso dan Es Teler Pak Topi, letaknya di samping RS Bethesda dan di seberang Novotel Hotel. Porsi banyak es teler itu cuma seharga 8000, yang saya suka sih ada sawonya jelas. Lumayan bisa ademin rewelnya tenggorokan saya.
Lalu, apakah saya memutuskan tetap pergi ke McD? Tentu saja. Lagipula saat itu batere ponsel saya habis, dan powerbank saya pun tidak full saya charge-nya, maka demi kelangsungan hidup saya di Yogya ini saya harus cari tempat, setidaknya sedikit mengisi batere ponsel saya.
Ya, itu saya. Berjalan kaki di tengah teriknya Yogya, demi hanya menikmati nikmatnya segelas Cola dan asinnya sebungkus kentang goreng di McD dan juga tak lupa untuk mengisi energi batere ponsel saya. Sebenarnya, saya ini bingung mau kemana lagi. Tujuan utama saya hari ini itu sebenarnya hanya Candi Prambanan. Sebenarnya pergi dan menikmati segelas susu segar di Kalimilk masuk ke otak saya ketika ucapan Host saya muncul di pikiran :
"Kamu suka baca buku kan? Suka ngopi? Coba deh ke Blanco, ada di sekitar daerah Tugu. Tempatnya sepi dan cocok banget buat kamu yang suka ngopi sambil baca buku."
Dan, saya lalu memesan ojek online dan mengarahkan tujuan saya ke Blanco Coffee and Books.
*
Saya selalu suka suasana kedai kopi walau saya sendiri bukanlah penikmat kopi. Perut saya selalu rewel setiap kali saya mengkonsumsi kopi, entah kopi yang memang kopi racikan sendiri atau kopi sachetan. Jadi, anehnya saya, saya selalu memesan es cokelat di kedai kopi.
Tepat pukul 3.30 sore, saya sampai di Blanco. Yogya benar-benar panas hari itu, maka saya memilih duduk di dalam. Begitu saya masuk wangi kopi langsung tercium. Rak buku besar serta barista-barista tampan tersenyum pula menyambut saya. Saya langsung jatuh cinta dengan kedai kopi ini.
Lantas seperti biasa, saya pesan es cokelat dan roti isi daging yang enak (dan saya lupa namanya). Sambil menunggu pesanan, saya berjalan ke arah rak buku besar disini. Dari sekian kedai kopi yang sudah saya kunjungi, biasanya mereka hanya menyediakan beberapa buku, tapi kebanyakan hanya menyediakan majalah dan buku-buku yang biasanya bergenre bisnis dan ekonomi. Hal yang membuat saya tidak tertarik.
Tapi, disini berbeda. Semua genre ada, bahkan Harry Potter sekalipun tersedia. Buku yang tersedia bukan hanya berbahasa Indonesia atau Inggris saja tapi juga ada yang dari bahasa Jerman, Belanda hingga Prancis. Saya pun senang bukan main. Macam anak kecil yang main ke toko mainan, saya ambil buku sebanyak yang saya mau. Walau sebenarnya kegiatan saya di Blanco hanya duduk, menikmati es cokelat dan menuliskannya di buku catatan saya.
Tapi, ada 1 buku yang sangat menarik perhatian saya, yaitu buku kumpulan cerpen yang berisi cerpen buatan siswi-siswi SMA Stella Duce 1 berjudul "Bungkamku Demi Niyang." Di salah satu cerpen yang saya lupa judulnya apa tapi yang menulis adalah siswi bernama Turia Hargani, anak ini menulis begini :
Aku bisa menjadi siapapun. Aku bisa menjadi pintar, bisa menjadi populer atau menjadi yang lain. Aku tidak perlu mengatakan siapa diriku, karena aku akan selalu menyesuaikan keadaan di sekelilingku. Mungkin hari ini aku bisa populer, tapi siapa yang tahu mereka semua bisa membenciku besok. Maka, aku tidak mau menjadi orang lain. Diriku adalah siapa yang aku mau.
Itulah saya.
*
Keringat dan bau lepek seharian terpapar matahari membuat saya memutuskan untuk kembali ke homestay, mandi dan bersiap membeli oleh-oleh di Malioboro. Lho, belum jadi turis di Yogya kan ya kalo belum ke Malioboro?
Malioboro di malam minggu bagaikan lubang hitam. Ramai tak karuan. Pedagang dimana-mana, penyanyi jalanan menampilkan penampilan terbaik mereka, penjual makanan menjajakan makanan yang mereka jual harga bersaing, para wisatawan memenuhi spot foto terbaik demi menampilkan gambar terbaik untuk dipajang di Instagram.
Sedangkan saya? Saya lebih memilih menikmati hal-hal yang mereka semua lakukan. Kaki lantas membawa saya berjalan ke arah Tugu. Jauh sih lumayan, tapi entah saya menikmati Yogya malam itu. Untung saja, Yogya belum hujan, jadi saya masih santai berjalan ditemani tawaran dari banyaknya tukang becak "Mba, becak yuk Tugu". Saya menolaknya hanya dengan sebuah senyuman.
Kini, saya berdiri di seberang Tugu Yogya. Sebuah simbol dari kota Yogya. Di dekat Tugu banyak sekali orang-orang yang berfoto, 1 pikiran saya "Tugu-nya kan di tengah jalanan ya, apa enggak takut ketabrak apa ya mereka" Nekat sih memang.
Lantas saya hanya duduk di seberang Tugu, di depan landscape kota Yogya. Sekeliling saya ada pasangan, sekumpulan anak muda, anak-anak kecil yang berlarian, para mahasiswa yang sedang mengamen mengatasnamakan "Dana Usaha buat acara kami".
Setelah menikmati Tugu dan nekat berjalan mendekatinya diiringi klakson mobil dimana-mana, maka perut saya kini harus dimanjakan. Katanya, yang khas dari Yogya adalah angkringannya, dan saya pikir kenapa saya tidak coba Angkringan Jos yang ada di sebelah utara stasiun Tugu. Saya pun memaksakan kaki saya untuk bersabar sedikit sampai tenaga saya pulih lagi.
*
Ketika sedang menikmati hidangan saya, di sebelah saya duduklah 4 orang laki-laki muda berbincang-bincang menggunakan bahasa sunda. Ya, bahasa sunda. Seketika saya merasa bukan di Yogya melainkan di Bandung. Dan benar saja, mereka adalah saudara yang tengah mengunjungi sepupu mereka yang sedang menyelesaikan studinya di Fakultas Kehutanan UGM.
Berbincang dengan mereka, di Yogya menggunakan bahasa sunda rasanya lucu. Dan percakapan kami ditutup dengan pertanyaan saya :
"Ngerasa engga sih bahwa Yogya itu mirip dengan Bandung?"
Dan mereka semua mengangguk setuju.
*
Setelah menyelesaikan makan malam saya, oleh-oleh adalah hal yang tidak boleh dilewatkan. Dan Malioboro adalah tempat yang pas untuk saya membeli buah tangan untuk keluarga saya.
Malioboro penuh sesak, tawar menawar menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Jawa hingga bahasa Jawa bercampur bahasa Sunda saya temukan.
Dan semua berakhir ketika gemuruh petir terdengar di kejauhan. Setelah beberapa barang sudah saya dapatkan, saya pulang dengan kaki gemetar dan hati senang.
Malam itu, hujan turun dengan lebat seketika saya sampai di homestay. Sepanjang malam hujan turun, menemani saya dan badan saya yang dipenuhi oleh tempelan koyo dan rasa mual karena masuk angin.
Menemani saya yang menyadari 1 hal, saya hanyalah seorang perempuan berumur 25 tahun yang mencari kebahagiannya sendiri, tanpa bantuan orang lain di tengah ratusan hingar bingar kehidupan orang lain.








Komentar
Posting Komentar